4 Februari 2013

BORDERLINE PERSONALITY DISORDER






Hollow!
Sehatkah "Jiwa" anda?



Boderline Personality Disorder adalah pola kepribadian yang di dominasi oleh ketidak-stabilan dalam hubungan pergaulan sosial, self-image (gambaran diri), alam perasaan (affects), dan tindakan tidak terduga (marked impulsivity).

Disebut juga dengan kepribadian "Ambang" karena berada di perbatasan antara gangguan Neurotik dan Skizofrenia. Gangguan kepribadian borderline bermula pada masa remaja atau dewasa awal (17-25 tahun), dengan prevelensi sekitar 1%, dan lebih banyak terjadi pada perempuan dibandingkan pada laki-laki.
Pribadi Borderline rentan terhadap suasana hati dan kemarahan yang konstan. Melampiaskan kemarahan pada diri sendiri dengan mencederai atau melukai diri sendiri (self-attack). Melukai diri sendiri ini secara fisik atau mental si penderita. Terkadang mereka suka mengancam untuk bunuh diri. Mereka juga sangat cepat tersinggung atau sensitif. Mood merekapun sering berubah-ubah.


Contohnya : Jika si A (penderita Boderline) menyukai si B atau menginginkan benda C dengan sangat dan berambisi memiliki si B atau benda C. Dan seketika ada faktor lain yang merusak suasana/mood si A, maka keinginan si A menjadi berubah secara signifikan dan aneh dalam kurun waktu yang singkat.

Ciri khas pribadi Borderline :
Argumentatif
Cepat tersinggung
Sarkastik atau sifat yang kejam atau suka melukai dengan perkataan
Emosional
Royal atau Boros
Takut di abaikan
Gampang membenci dan Gampang menyukai
Tidak dapat dipahami pola pikirnya
Perilaku yang tidak dapat di prediksi
Tidak tahan kesendirian
Menuntut perhatian
Sering terjadi konflik internal dalam keluarganya

Pribadi Borderline rentan terhadap :
Narkotika dan alkohol
Gangguan kepribadian lainnya (Psikopati atau Paranoid)
Mudah depresi/stress, perasaan hampa yang kronis.

Penyebab Borderline Personality Disorder :
Faktor Biologis/Genetis
Kelemahan fungsi "lobus frontalis" yang menyebabkan sifat Impulsif.
Peningkatan aktivitas "Amiglada" yaitu struktur dalam otak yang di anggap sangat penting dalam pengaturan emosi.

Linehan Diathesis-Stress Theory
Menurut teori ini, gangguan kepribadian borderline berkembang ketika individu dengan diatesis biologis (kemungkinan genetis) di mana ia mengalami kesulitan untuk mengontrol emosi, dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang salah (invalidating). Dalam teori ini, diatesis biologis disebut sebagai emotional dysregulation. Sedangkan invalidating experience adalah pengalaman di mana keinginan dan perasaan individu diabaikan dan tidak dihormati; usaha individu untuk mengkomunikasikan perasaannya tidak dipedulikan atau bahkan diberi hukuman. Salah satu contoh ekstremnya adalah kekerasan pada anak, baik secara seksual maupun nonseksual. Dengan kata lain, emotional dysregulation saling berinteraksi dengan invalidate experience anak yang sedang berkembang. Hal itulah yang kemudian memicu perkembangan kepribadian borderline.


PERSPEKTIF PSIKOSOSIAL MENGENAI BORDERLINE PERSONALITY DISORDER

Psikodinamik

Mengembangkan mekanisme defense atau pertahanan yang disebut splitting (pemisahan), yaitu mendikotomikan (pembagian atas dua kelompok yg saling bertentangan) objek menjadi semua baik ataupun semuanya buruk. Tidak dapat mengintegrasikan aspek positif dan negatif oranglain atau dirinya menjadi suatu keutuhan.

Hal ini sangat ekstrem dalam meregulasi emosi, karena individu Borderline melihat dunia termasuk dirinya sendiri dalam dikotomi hitam-putih.

Orangtua atau Caregiver (Pemberi perhatian) ataupun orang-orang yang dianggap penting bagi individu Boderline menjadi bagian dari ego si individu pada masa dewasa. Tetapi dapat menimbulkan konflik, karena harapan/tujuan/dan cara pemikiran mereka yang berlawanan. Terkadang kemauan orangtua berlawanan dengan kemauan si individu Borderline.

Contoh :

 Orangtua memberikan cinta dan perhatian secara tidak konsisten. Menghargai prestasi anak, tetapi tidak dapat memberikan dukungan emosional dan kehangatan.

 Orangtua yang terlalu "over-protective" tetapi tidak sepenuhnya merangkul anak secara hangat dan bijaksana. Melindungi anak hanya sekedar ke'ego'an orangtua (ketakutan nama baik keluarga tercemar) dengan membatasi ruang sosial si anak dan cenderung mengekang. Terlebih salah satu orangtua adalah penderita Paranoid Personality Disorder. Orangtua tipe ini tidak dapat memberikan alasan atau opini yang dapat di mengerti si anak.

 Kurang kasih sayang dari Ibu. Terjadi pada ibu yang mempunyai karier/sosialita yang jarang bercengkrama dengan si anak. Ibu rumah tangga yang sibuk atau asik sendiri dengan hobbynya. Perceraian orangtua, terutama dipisahkan dari sosok ibu.

 Di besarkan di keluarga yang tidak ekspresif secara emosional atau kaku, cenderung otoriter dan kolot.

 Sering terjadi konflik dalam keluarga.

 Mengalami kekerasan baik fisik, mental maupun Seksual.

Dengan demikian atau dapat disimpulkan dari kaca Psikodinamik, individu Borderline mempunyai masa kecil yang tidak menyenangkan.


 Behavioral

Individu borderline memiliki rasa haus akan kasih sayang, selalu mencari perhatian atau selalu ingin di perhatikan dan sangat sensitif. Meskipun individu Borderline ini sebenarnya sudah mendapatkan perhatian dari CareGiver atau orang-orang yang dianggapnya penting.


 Kognitif

Meskipun jarang terjadi pada individu borderline, si penderita dapat juga mengidap gangguan kepribadian lain. Seperti Paranoid, Psikopatik atau Antisosial yang juga dapat disebut Bipolar. Kecemasan dan kecurigaan terhadap oranglain karena individu ini takut akan ditinggalkan.


 Humanistik

Orang dengan gangguan ini, tidak yakin akan identitas diri. Sering menggonta-ganti nama, penyimpangan seksual, berubah-ubahnya tujuan hidup baik dalam karier ataupun perilaku. Hal ini membuat mereka merasakan kekosongan dan kebosanan secara terus-menerus.


 Interpersonal

Ketakutan akan ditinggalkan menyebabkan mereka menjadi pribadi yang menurut dalam hubungan sosialnya. Sering mengikutu kemauan lingkungan eksternal mereka. Maka dari itu mereka sangat rentan terhadap pergaulan bebas serpti narkoba dan alkohol.

Terkadang kelakuan mereka yang aneh dan tidak dapat terduga malah menjauhkan mereka dari orang-orang disekitarnya. Penolakan dari orang sekitarnya, membuat mereka menjadi marah dan cepat tersinggung. Sehingga, orang-orang di sekitar mereka lebih menjauh lagi.


0 Komenan:

Template by:

Free Blog Templates