7 November 2012

PARANOID PERSONALITY DISORDER




 Hollow! 
Sehatkah "Jiwa" anda?



Kali ini saya akan membahas penyakit kepribadian yang sering di jangkit orang kebanyakan. Dilansir dari id.wikipedia.org,

Paranoid (bahasa Yunani Kuno: παράνοια, paranoia) adalah gangguan mental yang diderita seseorang yang meyakini bahwa orang lain ingin membahayakan dirinya. Dikatakan sebagai bentuk gangguan bila perilaku tersebut sifatnya irasional, menetap, mengganggu, dan membuat stres.

Individu yang mengalami gangguan kepribadian paranoid biasanya ditandai dengan adanya kecurigaan dan ketidakpercayaan yang kuat terhadap orang lain. Mereka juga diliputi keraguan yang tidak beralasan terhadap kesetiaan orang lain atau bahwa orang lain tersebut tidak dapat dipercaya sehingga menimbulkan reaksi kekecewaan atau peristiwa yang dia anggap menghina dirinya.

Orang-orang yang mengalami gangguan ini merasa dirinya diperlakukan secara salah dan dieksploitasi oleh orang lain sehingga berperilaku selalu waspada terhadap orang lain. Mereka sering kali kasar dan mudah marah terhadap apa yang mereka anggap sebagai penghinaan. Individu semacam ini enggan mempercayai orang lain dan cenderung menyalahkan mereka serta menyimpan dendam meskipun bila ia sendiri juga salah. Mereka sangat pencemburu dan tanpa alasan dapat mempertanyakan kesetiaan pasangannya. Individu dengan gangguan ini tidak mampu terlibat secara emosional dan menjaga jarak dengan orang lain.

Gangguan kepribadian paranoid paling banyak terjadi pada kaum laki-laki dibandingkan dengan perempuan. Gangguan ini banyak dialami bersamaan dengan gangguan kepribadian schizotipal, borderline, dan avoidant.

Gangguan paranoid memiliki perbedaan diagnosis dengan skizofrenia, karena pada gangguan paranoid tidak muncul simtom halusinasi dan delusi. Perbedaannya dengan gangguan borderline adalah gangguan paranoid lebih sulit untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Sedangkan perbedaannya dengan gangguan antisosial adalah paranoid tidak memiliki sejarah antisosial. Perbedaannya dengan schizoid adalah gangguan ini tidak memiliki ide-ide paranoid atau tidak memiliki kecurigaan.

Perspektif Psikososial Mengenai Paranoid Disorder

Psikodinamik
Freud percaya pada hasil penelitiannya, bahwa proyeksi adalah pusat mekanisme dari pikiran paranoid. Delusi pada paranoid dijelaskan sebagai pengembangan dari konsekuensi atas penolakan libido terhadap obyek homoseksual, diikuti dengan regresi ke tahap narsistik pada libidinal development. Defense mekanisme kedua yang berkembang dalam lingkaran setan yang mereka ciptakan adalah isolasi, yaitu menjaga jarak secara psikologis maupun geografis. Selain itu inidividu ini juga menggunakan rasionalisasi dan displacement.

Pandangan psokodinamik perkembangan kontemporer menyatakan kepribadian paranoid adalah akibat dari perlakuan abuse pada usia dini. Sementara orang normal belajar trust pada awal perkembangan, paranoid malah belajar mistrust. Hipotesis freud telah digeneralisasi, yaitu paranoid tidak mempengaruhi keinginan homoseksual yang disembunyikan, melainkan merindukan kehangatan dari orang tua dengan jenis kelamin yang sama, penyiksa (abuser) mereka, seringnya adalah ayah.

Akhtar (millon, 452) menjelaskan aspek over dan cover dari kepribadian paranoid. Dalam area self consep, pada aspek over paranoid terlihat arogan, selalu merasa benar, dan mudah marah. Pada aspek cover, mereka merasa takut, inferior, dipenuhi dengan keraguan dan rasa bersalah. Dalam relasi interpersonal, secara over mereka terlihat tidak dapat dipercaya, tidak memiliki humor, suka menuduh, dan dingin. Secara cover, mereka sangat sensitive, naïf, takut akan kekuasaan dan otoritas, dan pendendam. Pada area adaptasi sosial, mereka rajin, bersemangat dan sukses saat bekerja dengan cara mereka sendiri. Secara cover, mereka sering memiliki masalah interpersonal, membawa masalah pribadi ke tempat kerja, dan kurang mampu bekerja sama dalam team. Pada area percintaan dan seksualitas, mereka terlihat tidak romantic, menolak humor seksual dan bergosip. Secara cover, mereka meregukan kemampuan seksual mereka, dan mungkin memiliki kecenderungan sadomasochistic.

Behavioral
Pada awal kehidupan, mereka melihat model pada fugur otoritas, kemudian mereka menjadi independen dan mengikuti aturan dengan teliti. Sebagai dampak dari kekakuan konformitas mereka terhadap lingkungan, maka mereka menjadi kurang spontan dan inisiatif, sehingga tidak dapat membentuk relasi mendalam dan terbuka, dan merasa ragu-ragu serta ketakutan terhadap hal-hal yang tidak merka ketahui. Selain itu, kemungkinan saat kecil mengalami penyiksaan atau penghinaan oleh pengasuhnya, menjadi korban kebencian dari orang lain, atau pengasuh menjadi model paranoid (missal, sering mengatakan “Kau tidak boleh mempercayai orang lain).

Cognitive
Secara kognitif, orang paranoid memiliki kesamaan dengan kepribadian konpulsive. Masalah kognitif utama pada orang paranoid bukanlah persepsinya melainkan interpretasi. Dasar stimulus yang masuk sama dengan orang normal, namun informasi diproses dengan ketegasan dalam pengidentifikasian plot, pembatasan ide, dan kritis. Cara berpikir orang paranoid berbeda dengan orang normal, mereka memiliki criteria tersendiri untuk mencapai suatu goal.

Interpersonal
Berdasarkan pernyataan sullivan, terdapat dua syarat untuk perkembangan paranoid yang miring. Pertama adalah rasa tidak aman yang intens terkait pada inferioroti. Kedua adalah menyalahkan orang lain. Dengan bereaksi seakan semua orang adalah musuh, orang paranoid menemukan posisi aman dan autonomi mereka, dan melindungi diri mereka dengan melawan pengaruh dari luar. Untuk menciptakan dunia yang aman bagi mereka, orang paranoid menciptakan karakter interpersonal untuk menyerang, perlindungan keamann, dan membangun hubungan formal dengan orang lain tapi tetap menghindari attachement dan ketergantungan. Paranoid ingin percaya orang lain namun sangat takut terluka oleh penghianatan.

0 Komenan:

Template by:

Free Blog Templates